
Pandan (Humas)-MAN 3 Tapanuli Tengah menggelar upacara perdana tahun 2026 sebagai momentum kebangkitan pasca musibah banjir bandang yang sempat melanda lingkungan madrasah beberapa waktu lalu. Upacara yang berlangsung di halaman madrasah ini diikuti oleh seluruh peserta didik, guru dan tenaga kependidikan dengan penuh khidmat dan semangat baru,Senin(19/1).
Upacara tersebut menjadi simbol bangkitnya MAN 3 Tapanuli Tengah setelah melewati masa-masa sulit akibat bencana alam. Meski sempat mengalami gangguan pada aktivitas belajar mengajar, madrasah tetap menunjukkan komitmennya dalam menjaga kedisiplinan serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kepedulian serta sikap ramah lingkungan dan cinta alam kepada seluruh warga madrasah.
Bertindak selaku pembina upacara Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan Dahrul Effendi, menyampaikan amanat yang sarat makna tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan melalui perspektif ekoteologi pasca bencana banjir bandang.
Dalam amanatnya beliau menyampaikan bahwa banjir bandang yang terjadi bukan sekadar bencana alam tetapi menjadi pengingat bagi seluruh warga madrasah tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Dalam ajaran Islam manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki amanah untuk merawat dan memelihara lingkungan.
“Menjaga alam adalah bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Merawat lingkungan berarti menjalankan perintah-Nya dan merusaknya sama dengan mengkhianati amanah yang telah diberikan. Oleh karena itu mari kita tumbuhkan sikap ramah lingkungan dan cinta alam dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Dahrul Effendi.
Beliau juga mengutip firman Allah SWT yang menyebutkan bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat perbuatan tangan manusia. Oleh karena itu seluruh peserta didik diajak untuk menjadikan musibah ini sebagai bahan introspeksi diri agar lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Dahrul Effendi mengajak seluruh peserta didik untuk memulai perubahan dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan madrasah, menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik serta menghemat penggunaan air dan listrik dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada petugas dan pelaksana upacara yang telah menjalankan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab meskipun dalam kondisi pasca bencana. Kedisiplinan dan kekompakan yang ditunjukkan oleh para petugas upacara menjadi cerminan semangat kebangkitan MAN 3 Tapanuli Tengah.
Ia menegaskan bahwa madrasah merupakan rumah kedua bagi peserta didik. Jika dijaga bersama-sama dengan sikap cinta alam maka akan tercipta lingkungan belajar yang aman, nyaman, bersih dan sehat. Namun sebaliknya, kelalaian terhadap lingkungan dapat menimbulkan dampak buruk bagi semua pihak.
Beliau juga menekankan pentingnya nilai kebersamaan dan gotong royong yang telah ditunjukkan oleh seluruh warga madrasah dalam membersihkan lingkungan pasca banjir bandang. Nilai-nilai tersebut diharapkan terus terpelihara dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan upacara perdana ini menjadi tanda dimulainya kembali aktivitas madrasah secara normal setelah dilakukan berbagai upaya pembersihan dan pembenahan lingkungan sekolah secara ramah lingkungan.
Peserta didik tampak antusias mengikuti upacara dengan tertib dan penuh semangat. Kehadiran mereka mencerminkan tekad untuk terus melanjutkan proses pembelajaran sekaligus menjadi generasi yang peduli dan mencintai alam.
Momentum upacara perdana tahun 2026 ini menjadi titik awal kebangkitan MAN 3 Tapanuli Tengah untuk kembali menata langkah menuju madrasah yang unggul, berprestasi serta berwawasan lingkungan.
Dengan semangat kebersamaan, kepedulian serta cinta alam sebagai amanah Allah SWT MAN 3 Tapanuli Tengah siap melangkah maju dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.(ms)