Seru dan Penuh Gelak Tawa, Permainan Tradisional Pecah Piring Semarakkan Class Meeting MAN 2 Tapanuli Tengah

Sorkam Barat (Humas) – Kemeriahan class meeting semester genap di MAN 2 Tapanuli Tengah berlangsung seru pada Rabu, 17 Juni 2026. Salah satu cabang perlombaan yang paling menyedot perhatian dan menghadirkan keseruan luar biasa adalah permainan tradisional pecah piring antar-kelas. Lapangan utama madrasah seketika berubah menjadi arena laga yang penuh dengan sorak-sorai pendukung, di mana para siswa saling beradu ketangkasan dan kecepatan dalam permainan yang sarat akan nilai budaya ini.

Permainan pecah piring ini diikuti dengan penuh antusias oleh perwakilan dari masing-masing kelas X dan XI. Aturan main yang mengharuskan satu tim menyusun kembali tumpukan piring selagi tim lawan berusaha “menembak” mereka dengan bola kasti, sukses menciptakan momen-momen dramatis. Kejar-kejaran yang sengit, lemparan bola yang meleset, hingga strategi pertahanan yang solid membuat atmosfer pertandingan berjalan sangat kompetitif namun tetap menghibur.

Kepala MAN 2 Tapanuli Tengah, Muhammad Lufti Siambaton, yang turut menyaksikan langsung pertandingan dari pinggir lapangan, tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya. Beliau menilai bahwa pemilihan permainan tradisional seperti pecah piring ini sangat positif untuk melatih ketangkasan fisik sekaligus membangun kemitraan yang kuat antar-siswa di luar jam pelajaran formal.

“Melihat anak-anak bertanding dengan penuh semangat dan tawa lepas dalam permainan pecah piring ini sungguh luar biasa. Di tengah gempuran teknologi modern, madrasah kita sengaja menghidupkan kembali permainan tradisional ini agar siswa tidak lupa pada akar budayanya. Di sini mereka tidak hanya berkompetisi, tetapi juga belajar tentang kerja sama tim, fokus, dan strategi yang matang,” ungkap Muhammad Lufti Siambaton.

Keseruan ini pun diakui langsung oleh salah seorang siswa perwakilan kelas Izza kelas X yang ikut bertanding di lapangan. Menurutnya, dinamika permainan yang cepat dan penuh kejutan di area terbuka memberikan sensasi kesenangan tersendikan yang jauh berbeda dibandingkan dengan bermain gim di gawai.

“Awalnya kami pikir akan mudah, tapi ternyata butuh konsentrasi tinggi untuk menyusun piring sambil menghindari lemparan bola dari tim lawan. Seru sekali, kami bisa tertawa lepas bersama teman-teman sekelas dan berteriak mendukung satu sama lain. Permainan tradisional seperti ini benar-benar seru dan membuat kekompakan kelas kami makin solid,” ujar Izza dengan penuh semangat.

Sorak penonton semakin pecah saat memasuki babak final yang mempertemukan dua kelas terkuat yang memiliki pertahanan paling kokoh. Setiap lemparan bola yang mengenai sasaran atau keberhasilan menyusun piring di detik-detik terakhir selalu disambut gemuruh tepuk tangan dari para wali kelas dan siswa yang memadati area lapangan. Semangat membara dan gelak tawa yang mewarnai setiap sudut area perlombaan menjadi bukti nyata bahwa seluruh warga madrasah menyambut pesta olahraga dan kreativitas ini dengan penuh sukacita.