
Sorkam Barat (Humas) — Wali kelas di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tapanuli Tengah secara proaktif mengambil langkah-langkah pembinaan terhadap siswa yang sering membolos. Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kepala Madrasah yang menekankan pentingnya peran wali kelas dalam mengidentifikasi dan menangani masalah kehadiran siswa. Pembinaan ini tidak hanya berfokus pada pemberian sanksi, tetapi lebih kepada pendekatan humanis untuk mencari tahu penyebab siswa tidak hadir di madrasah 1/9/25.
Setiap wali kelas kini memiliki kewajiban untuk memantau kehadiran siswanya secara lebih intensif. Ketika ada siswa yang tidak hadir tanpa keterangan, wali kelas segera melakukan komunikasi dengan pihak keluarga. Pendekatan awal ini dilakukan melalui telepon atau pesan singkat untuk memastikan kondisi siswa. Jika ketidakhadiran berlanjut, wali kelas tidak ragu untuk melakukan kunjungan ke rumah siswa, sebuah langkah yang dianggap sangat efektif untuk menjalin komunikasi langsung dengan orang tua dan siswa.
Salah satu wali kelas, Febriadi, S.Pd.I., menceritakan pengalamannya. “Kami menemukan bahwa alasan siswa bolos itu beragam. Ada yang karena masalah di rumah, kesulitan ekonomi, atau bahkan merasa tidak nyaman dengan pelajaran tertentu. Tugas kami adalah mendengarkan keluhan mereka tanpa menghakimi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa dengan mengetahui akar masalah, mereka bisa memberikan solusi yang tepat, seperti menyalurkan bantuan beasiswa atau mengarahkan siswa untuk konseling dengan guru bimbingan konseling (BK).
Pembinaan ini juga melibatkan kolaborasi erat antara wali kelas, guru BK, dan orang tua. Pertemuan tripartit ini sering dilakukan untuk membahas strategi terbaik dalam membantu siswa kembali termotivasi untuk belajar. Orang tua juga diberikan pemahaman tentang pentingnya komunikasi yang terbuka dengan anak-anak mereka dan dukungan terhadap kegiatan madrasah. Kerjasama ini menciptakan ekosistem pendidikan yang solid dan saling mendukung.
Dengan adanya pembinaan yang sistematis dan pendekatan personal dari para wali kelas, diharapkan angka kasus bolos di MAN 2 Tapanuli Tengah dapat menurun signifikan. Upaya ini menunjukkan komitmen madrasah dalam menciptakan lingkungan yang suportif, di mana setiap siswa merasa dihargai dan didukung untuk mencapai potensi terbaik mereka, baik di bidang akademik maupun karakter. Ini adalah wujud nyata dari pendidikan yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan, tetapi juga pada pembentukan pribadi yang berintegritas.