
Pandan (Humas). Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang digelar di MAN 3 Tapanuli Tengah (Tapteng) berlangsung khidmat dan penuh penghayatan. Kegiatan keagamaan ini diikuti oleh seluruh warga madrasah serta tamu undangan, sebagai momentum memperkuat keimanan dan meneladani perjalanan spiritual Rasulullah SAW,Kamis(6/2).
Salah satu rangkaian acara yang paling menyentuh perhatian hadirin adalah penampilan monolog berjudul “Penghiburan di Puncak Duka” yang dibawakan oleh peserta didik Adzkia. Monolog tersebut menjadi sajian reflektif yang menggugah emosi dan menghadirkan suasana hening penuh makna di lingkungan madrasah.
Dalam monolognya Adzkia menggambarkan kondisi Rasulullah SAW pada masa paling berat dalam hidup beliau, yakni saat ditinggal wafat oleh istri tercinta Khadijah RA dan paman beliau Abu Thalib. Periode tersebut dikenal sebagai ‘Aamul Huzn atau tahun kesedihan, ketika perjuangan dakwah menghadapi penolakan dan tekanan yang sangat berat.
Dengan penghayatan yang mendalam Adzkia melantunkan dialog batin Rasulullah SAW yang menggambarkan rasa kesendirian, kesedihan dan kepedihan hati. Ungkapan kegundahan yang disampaikan mampu membawa hadirin larut dalam suasana duka yang dialami Rasulullah SAW pada masa itu.
Monolog ini tidak hanya menampilkan kesedihan tetapi juga menggambarkan keteguhan iman dan ketulusan Rasulullah SAW dalam menjalankan amanah dakwah. Penonton diajak untuk merenungi betapa besar kesabaran dan keikhlasan beliau dalam menghadapi ujian hidup.
Suasana monolog berubah ketika memasuki bagian puncak peristiwa Isra Mi’raj. Dengan perubahan ekspresi dari sedih menjadi tenang, Adzkia menggambarkan momen ketika Rasulullah SAW mendapatkan panggilan istimewa dari Allah SWT sebagai bentuk penghiburan atas segala duka yang dialami.
Pesan utama yang disampaikan dalam monolog ini adalah tentang makna shalat sebagai anugerah dan penguat iman. Melalui peristiwa Isra Mi’raj, Rasulullah SAW menerima perintah shalat lima waktu sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT dan sebagai penenang jiwa bagi umat Islam.
Adegan sujud yang diperagakan di akhir monolog menjadi simbol kuat bahwa dalam kondisi terberat sekalipun, hanya dengan bersujud dan berserah diri kepada Allah SWT hati akan menemukan ketenangan dan kekuatan.
Penampilan monolog tersebut mendapat apresiasi dari para hadirin yang menyaksikan. Banyak di antara peserta kegiatan tampak terharu dan memberikan tepuk tangan sebagai bentuk penghargaan atas penyampaian pesan yang begitu mendalam dan menyentuh.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah H. Julsukri M. Limbong, S.Ag., M.Pd, menyampaikan apresiasinya terhadap penampilan monolog tersebut. Ia menilai bahwa penyampaian hikmah Isra Mi’raj melalui seni monolog merupakan cara yang efektif dan edukatif dalam menanamkan nilai keislaman kepada peserta didik.
Beliau menyampaikan bahwa kreativitas peserta didik MAN 3 Tapanuli Tengah patut diapresiasi karena mampu mengemas pesan dakwah secara komunikatif, menyentuh hati dan relevan dengan kehidupan generasi muda saat ini.
Kepala MAN 3 Tapanuli Tengah Hj. Juraida Siregar, S.Ag., M.Pd, mengungkapkan rasa bangga atas penampilan Adzkia. Ia menegaskan bahwa madrasah terus berkomitmen mendukung pengembangan bakat, minat dan karakter religius peserta didik melalui kegiatan keagamaan dan seni Islami.
Melalui monolog “Penghiburan di Puncak Duka” peringatan Isra Mi’raj di MAN 3 Tapanuli Tengah tidak hanya menjadi kegiatan seremonial tetapi juga menjadi sarana refleksi spiritual yang mendalam sekaligus penguatan nilai keimanan dan keteladanan Rasulullah SAW bagi seluruh warga madrasah.(ms)