
Lumut (Humas)-Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Lumut Ahmad Putra Tanjung, diundang sebagai penceramah dalam pengajian Muslimat Nahdlatul Ulama Kecamatan Lumut.
Dalam Tausiyah beliau menyampaikan masih kuat dalam ingatan kita peristiwa yang terjadi diakhir November lalu, peristiwa yang sama juga terjadi diawal Desember ini, yaitu terjadinya bencana banjir bandang, longsor yang terjadi di Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat yang mengakibatkan hilangnya ratusan nyawa menjadi korban, kehilangan tempat berteduh, harta benda, dan sanak keluarga disaat menjelang akhir tahun musibah bencana alam telah terjadi di Tapanuli Tengah ini bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan, termasuk bencana alam.
Tujuannya bukan untuk menyulitkan, tetapi untuk menguatkan iman dan mengingatkan manusia agar lebih bergantung kepada Allah. Bencana juga bisa menjadi bentuk peringatan akibat banyaknya maksiat dan jauh dari ketaatan. Rasulullah Saw bersabda, “Jika maksiat telah tampak pada suatu kaum, maka Allah akan menimpakan kepada mereka berbagai bencana.” (HR. Ibn Majah).
Hadis diatas memberi penjelasan spiritual bahwa ketika nilai moral masyarakat rusak, Allah dapat menurunkan peringatan agar manusia kembali sadar dan memperbaiki diri. Namun, penting ditegaskan bahwa tidak semua bencana adalah azab; sebagian merupakan ujian atau rahmat yang hikmahnya baru tampak kemudian.
Fenomena bencana alam adalah bagian dari takdir Allah Swt, karena banyaknya dosa yang telah dilakukan dan enggan bertaubat, karena itu upaya mencegah datangnya bencana yang lebih besar perbanyaklah muhasabah, bertaubat, istighfar, sebagaimana perintah Allah Swt : “Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu. (QS.Muhammad,47: 19).
Selain banyak beristighfar senantiasa iringi dengan mengerjakan apa yang diperintahkan Allah seperti sholat 5 waktu tidak pernah tinggal, perbanyak infaq dan sedekah kepada saudara-saudara yang membutuhkan serta jauhi apa yang dilarang Allah dan banyak berdoa memohon perlindungan dari Allah Swt. Menjaga lingkungan merupakan kewajiban setiap manusia dalam Islam, hal ini bukan sekadar etika sosial tetapi amanah yang harus dipenuhi sebagai bentuk ibadah. Perintah menjaga alam dan lingkungan telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Saw.
Alam adalah ciptaan Allah Swt yang harus dijaga keseimbangannya agar kehidupan manusia dan makhluk lain tetap lestari. Islam mengajarkan bahwa alam semesta dan isinya diciptakan Allah Swt dan manusia diberi tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk merawat dan memelihara alam tersebut. Lingkungan dalam perspektif Islam mencakup bumi, air, udara, tumbuhan, hewan, dan ekosistem Allah Swt berfirman: ”Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah SWT amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al A’raf,7:56)
Ayat diatas menegaskan bahwa manusia dilarang merusak bumi, dan sebaliknya harus memelihara serta menjaga kelestarian alam. Rasulullah Saw juga bersabda Artinya: “Siapa saja yang mendirikan bangunan atau menanam pohon tanpa kezaliman dan melewati batas, niscaya itu akan bernilai pahala yang mengalir selama bermanfaat bagi makhluk Allah yang Maha Pengasih.” (HR Ahmad)
Ternyata musibah bisa juga dicegah, begitu banyak tuntunan terkait cara untuk menolak bala atau menghindari musibah salah satunya penyebab terjadinya bencana alam. Berdasarkan yang ada didalam Al-Quran “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)
Melalui ayat di atas, Allah Swt memperingatkan manusia bahwa kerusakan dan bencana alam yang terjadi di muka bumi adalah ulah tangan mereka sendiri. Banjir, longsor, berkurangnya lapisan tanah, adalah contoh bahwa bencana alam bisa terjadi karena hawa nafsu dan keangkuhan manusia. Ujarnya
Pengajian yang berlangsung dengan khidmat ini juga diisi dengan sesi tanya jawab dan diskusi antara penceramah dan jemaah. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keimanan jemaah, serta mempererat silaturahmi antar warga.
Kepala KUA Lumut mengapresiasi kegiatan pengajian yang diselenggarakan oleh Muslimat NU dan berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta menjauhi kemungkaran.