
Sorkam Barat (Humas) – Selasa, 28 April 2026 Dalam upaya menjaga kelestarian warisan lokal, guru olahraga di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tapanuli Tengah memperkenalkan kembali permainan tradisional “Lompat Katak” kepada para siswa. Kegiatan yang berlangsung di lapangan madrasah ini bertujuan untuk mengalihkan perhatian siswa dari ketergantungan pada gawai (gadget) menuju aktivitas fisik yang edukatif. Permainan ini dipilih karena kesederhanaannya namun memiliki manfaat besar bagi perkembangan fisik remaja.
Guru olahraga MAN 2 Tapanuli Tengah Maulidi Hasyim, S.Pd., menjelaskan bahwa permainan lompat katak bukan sekadar melompat, melainkan latihan pliometrik yang sangat baik untuk memperkuat otot tungkai dan meningkatkan daya ledak siswa. Dengan teknik yang benar, siswa diajak untuk melompat dari posisi jongkok layaknya katak, yang secara medis terbukti mampu meningkatkan koordinasi tubuh dan stamina. Materi ini dikemas secara menarik agar siswa tidak merasa sedang melakukan latihan fisik yang berat, melainkan sedang bermain bersama rekan sejawat.
“Permainan lompat katak ini adalah cara sederhana namun sangat efektif untuk membangun kekuatan fisik siswa tanpa mereka merasa sedang dibebani latihan berat. Fokus kita adalah pada daya ledak otot kaki dan keseimbangan. Lebih dari sekadar olahraga, saya ingin anak-anak kembali merasakan kegembiraan bermain secara komunal di lapangan, sesuatu yang mulai hilang karena mereka terlalu sering menunduk menatap layar ponsel.” Ujar Maulidi.
Suasana lapangan tampak riuh saat para siswa mulai berlomba mencapai garis finis dengan gaya lompatan yang khas. Sorak-sorai dukungan antar-teman menambah semangat kompetisi yang sehat di lingkungan madrasah. Melalui permainan ini, siswa secara tidak langsung belajar tentang nilai sportivitas dan kegigihan. Salah seorang siswa mengaku bahwa meskipun melelahkan, permainan ini jauh lebih menyenangkan dibandingkan olahraga rutin biasa karena adanya unsur tantangan dan kebersamaan yang kental.
“Awalnya saya kira mudah, tapi ternyata melompat terus-menerus dari posisi jongkok itu cukup menguras tenaga dan membuat kaki pegal. Tapi rasa capeknya tertutup karena seru sekali bisa lomba balapan sama teman-teman sekelas. Kami jadi lebih banyak tertawa dan saling menyemangati. Ternyata permainan tradisional seperti ini tidak kalah asyik dengan game online yang biasa kami mainkan.” Ujar Ipri siswa kelas XI-1.
Sebagai penutup kegiatan, guru olahraga mengingatkan bahwa permainan tradisional seperti lompat katak adalah bukti bahwa untuk menjadi sehat tidak harus selalu menggunakan alat-alat modern yang mahal. Kreativitas dalam memanfaatkan ruang dan fisik adalah kunci utama dari olahraga tradisional. Kedepannya, MAN 2 Tapanuli Tengah berencana mengadakan festival permainan rakyat antar-kelas guna memastikan semangat pelestarian budaya ini terus berkobar di hati seluruh warga sekolah.