
Tapteng (Humas) — Suasana ruang kelas di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Tapanuli Tengah tampak berbeda setiap Jumat. Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari ruang-ruang kelas melalui kegiatan “Jumat Waktunya Mengaji”. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh siswa bersama guru yang mengajar pada les pertama. Pembiasaan ini menjadi salah satu upaya madrasah dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik sejak dini.
Kegiatan “Jumat Waktunya Mengaji” dilaksanakan di kelas masing-masing sebelum siswa memasuki materi pembelajaran. Para siswa membaca Al-Qur’an secara bersama-sama dengan didampingi guru dalam suasana yang tenang, tertib, dan khidmat. Kehadiran guru dalam kegiatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pendamping, tetapi juga menjadi teladan bagi siswa dalam membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an. Melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin, madrasah berharap budaya membaca Al-Qur’an semakin tumbuh dan menjadi bagian dari keseharian peserta didik. Saat ini, proses pembelajaran di MIN 1 Tapanuli Tengah dilaksanakan pada siang hari karena madrasah sedang dalam proses pembangunan. Penyesuaian jadwal tersebut merupakan bagian dari upaya madrasah agar proses pendidikan tetap berjalan di tengah berlangsungnya pembangunan fasilitas madrasah.
Melalui kegiatan mengaji bersama, siswa diajak untuk menjadikan membaca Al-Qur’an sebagai kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari. Pembiasaan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan kedekatan peserta didik terhadap Al-Qur’an. Selain itu, nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an diharapkan dapat menjadi pedoman bagi siswa dalam bersikap, berperilaku, dan berinteraksi dengan sesama. Dengan demikian, pendidikan di madrasah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan generasi yang memiliki karakter religius dan akhlak mulia.
Kepala MIN 1 Tapanuli Tengah, Agussalim Batubara, S.Pd.I., M.M., memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan “Jumat Waktunya Mengaji” tersebut. Ia menilai bahwa pembiasaan membaca Al-Qur’an memiliki peranan penting dalam membentuk karakter peserta didik, terutama apabila dilakukan secara konsisten sejak usia dini. Menurutnya, lingkungan madrasah harus menjadi tempat yang mampu menumbuhkan kecintaan siswa terhadap nilai-nilai keagamaan melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara berkelanjutan. Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dipertahankan dan memberikan dampak positif bagi perkembangan spiritual serta karakter para siswa.
Peran guru juga menjadi bagian penting dalam keberlangsungan kegiatan tersebut. Dengan mendampingi siswa secara langsung di dalam kelas, guru turut menciptakan suasana belajar yang religius sekaligus memberikan contoh nyata kepada peserta didik. Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan motivasi siswa untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an secara rutin. Guru juga memiliki peran strategis dalam mengarahkan siswa agar nilai-nilai keagamaan yang diperoleh tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan “Jumat Waktunya Mengaji” menjadi salah satu bentuk komitmen MIN 1 Tapanuli Tengah dalam membangun budaya religius di lingkungan madrasah. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang mengawali kegiatan pembelajaran menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya tentang kecerdasan intelektual, tetapi juga tentang pembentukan karakter dan akhlak. Dari ruang-ruang kelas MIN 1 Tapanuli Tengah, pembiasaan tersebut diharapkan terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi peserta didik. Dengan semangat tersebut, madrasah terus berikhtiar melahirkan generasi yang cerdas, religius, berkarakter, dan berakhlak mulia. (NY)