
Sorkam Barat (Humas) – Kamis, 07/05/2026 Suasana lapangan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tapanuli Tengah tampak berbeda dari biasanya pada jam pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) pagi ini. Gelak tawa dan teriakan semangat para siswa pecah saat mereka mengikuti praktik permainan tradisional “Pecah Piring”. Inovasi pembelajaran ini sengaja dihadirkan untuk memberikan variasi agar siswa tidak bosan dengan materi olahraga arus utama sekaligus sebagai upaya sekolah dalam melestarikan warisan budaya lokal.
Dalam pelaksanaannya, para siswa dibagi menjadi dua kelompok yang saling berlawanan, yakni tim pelempar dan tim penjaga. Dengan menggunakan bola kasti dan tumpukan pecahan genting, mereka harus beradu strategi dan ketangkasan. Tim pelempar berusaha merobohkan tumpukan piring dan menyusunnya kembali, sementara tim penjaga berupaya menghentikan lawan dengan cara melempar bola ke arah badan lawan sebelum susunan piring berhasil diselesaikan.
Guru olahraga Maulidi Hasyim, S.Pd., mengungkapkan bahwa permainan tradisional ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan media efektif untuk melatih aspek motorik dan kognitif siswa. Permainan Pecah Piring menuntut koordinasi mata dan tangan yang baik, kelincahan dalam berlari, serta kerja sama tim yang solid. Selain itu, nilai-nilai kejujuran dan sportivitas sangat ditekankan selama permainan berlangsung agar karakter positif siswa tetap terbentuk di luar ruang kelas.
“Saya sengaja membawa permainan Pecah Piring ini ke dalam kurikulum praktik PJOK karena saya melihat adanya kejenuhan siswa terhadap olahraga konvensional. Melalui permainan ini, aspek fisik seperti agility (kelincahan) dan koordinasi motorik mereka tetap terasah, namun dengan balutan kegembiraan. Yang terpenting, saya ingin mereka sadar bahwa kita punya warisan budaya yang jauh lebih menyehatkan dan kompetitif daripada hanya sekadar bermain game di ponsel. Di sini, mereka belajar strategi, komunikasi, dan sportivitas secara natural dalam sebuah tim.” Ujar Maulidi.
Para siswa menyambut antusias kegiatan ini. Ipri Fahur Rahman Salah satu siswa kelas XI mengaku sangat senang karena pelajaran olahraga menjadi lebih segar dan menantang. Menurutnya, permainan ini jauh lebih seru daripada sekadar berlari mengelilingi lapangan karena ada unsur strategi dan nostalgia masa kecil yang dirasakan. Mereka merasa lebih dekat dengan identitas daerahnya melalui permainan yang mungkin sudah mulai jarang dimainkan di lingkungan rumah akibat pergeseran ke gawai digital.
Bermain Pecah Piring ini rasanya beda. Ada ketegangan saat harus menyusun kembali tumpukan piring sambil menghindari lemparan bola dari lawan. Kami jadi harus lari zig-zag dan benar-benar bekerja sama agar tidak kena eliminasi. Selain bikin keringetan, permainan ini bikin kami makin akrab satu sama lain. Kami jadi tahu kalau permainan tradisional orang tua kita dulu ternyata sangat menantang dan tidak kalah asyik dengan olahraga modern.” Ujar Ipri.
Kepala Madrasah MAN 2 Tapanuli Tengah turut memberikan apresiasi atas inisiatif kreatif ini. Ia berharap metode pembelajaran berbasis kearifan lokal seperti ini dapat terus dikembangkan di mata pelajaran lain. Dengan mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam kurikulum sekolah, MAN 2 Tapanuli Tengah berkomitmen untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya bugar secara fisik, tetapi juga memiliki rasa bangga dan kepedulian yang tinggi terhadap kekayaan budaya Nusantara.