
Sorkam Barat (Humas) – Perwakilan guru dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tapanuli Tengah menghadiri kegiatan sosialisasi implementasi Kurikulum Berbasis Cinta yang diselenggarakan di Desa Sibintang, Kecamatan Sosorgadong. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan pendekatan pedagogi baru yang mengedepankan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan pendekatan emosional yang positif dalam proses belajar-mengajar. Dengan menghadiri sosialisasi ini, MAN 2 Tapanuli Tengah berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu pendidikan formal yang tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan emosional peserta didik. Selasa, 9/06/26
Suasana sosialisasi yang berlangsung di Sibintang tersebut berjalan dengan interaktif dan penuh kehangatan. Para narasumber memaparkan bagaimana menyisipkan pilar-pilar karakter berbasis cinta ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di setiap mata pelajaran. Melalui kurikulum ini, guru diharapkan mampu mengubah atmosfer kelas menjadi ruang aman bagi siswa untuk berekspresi, berdiskusi, dan meminimalkan tekanan psikologis (stres) yang sering kali membayangi siswa saat menghadapi materi pelajaran yang dianggap sulit.
Pendekatan humanis ini dinilai sangat relevan untuk mentransformasi mata pelajaran eksakta yang selama ini dicap kaku. Astina, guru mata pelajaran Kimia MAN 2 Tapanuli Tengah yang menjadi salah satu peserta, menyatakan kesiapannya untuk menerapkan formula baru ini di kelasnya. “Selama ini pelajaran Kimia sering dianggap momok yang rumit dan menjenuhkan oleh siswa karena penuh dengan rumus abstrak. Melalui Kurikulum Berbasis Cinta ini, saya belajar bahwa penyampaian materi harus diawali dengan membangun kedekatan emosional terlebih dahulu. Ketika siswa sudah merasa dicintai dan dihargai di kelas, mereka akan jauh lebih terbuka dan mudah menyerap materi kimia sesulit apa pun,” ungkap Astina di sela-sela kegiatan.
Senada dengan hal tersebut, urgensi pembentukan karakter lewat kasih sayang juga dirasakan langsung dalam pembelajaran berbasis kebangsaan. Nursah, guru mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKN) yang turut hadir, menekankan bahwa kurikulum ini menjadi angin segar bagi penguatan nilai-nilai moral siswa. “Mata pelajaran PKN bukan sekadar menghafal pasal atau teori hukum, melainkan bagaimana menumbuhkan rasa cinta tanah air dan sesama. Dengan Kurikulum Berbasis Cinta, kami diajarkan untuk menyentuh hati siswa terlebih dahulu agar nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan kepedulian sosial itu tumbuh secara organik dari dalam diri mereka, bukan karena paksaan nilai di atas kertas,” tutur Nursah dengan penuh semangat.
Keikutsertaan para guru MAN 2 Tapanuli Tengah dalam giat di Kecamatan Sosorgadong ini diharapkan membawa dampak simultan bagi kemajuan madrasah secara menyeluruh. Sepulangnya dari Sibintang, para guru yang hadir direncanakan akan melakukan pengimbasan materi kepada rekan-rekan sejawat di lingkungan madrasah. Kepala MAN 2 Tapanuli Tengah optimis bahwa penerapan Kurikulum Berbasis Cinta ini dapat melahirkan ekosistem belajar yang lebih sehat, harmonis, dan mampu mencetak generasi unggul yang cerdas secara akademik sekaligus kaya akan budi pekerti.