Isak Tangis Warnai Pelepasan Siswa MAN 2 Tapanuli Tengah: Basuh Kaki dan Sungkem Orang Tua

Sorkam Barat (Humas) – Suasana penuh haru dan tetesan air mata menyelimuti acara pelepasan siswa kelas XII MAN 2 Tapanuli Tengah tahun ini. Berbeda dengan perayaan kelulusan yang biasanya bersifat euforia, madrasah ini memilih menggelar prosesi sakral berupa tradisi mencuci kaki dan sungkeman kepada orang tua. Acara yang digelar di halaman madrasah tersebut diikuti oleh ratusan siswa tingkat akhir didampingi wali murid masing-masing, menciptakan pemandangan yang sangat menyentuh hati bagi siapa pun yang menyaksikannya. Sabtu, 18 April 2026

Prosesi diawali dengan duduknya para orang tua di kursi yang telah disiapkan secara berderet, sementara para siswa bersimpuh di hadapan ayah dan ibu mereka. Dengan penuh kelembutan, para siswa membasuh kaki orang tua menggunakan air bunga sebagai simbol permohonan maaf dan bakti atas segala pengorbanan yang telah diberikan selama masa sekolah. Isak tangis pecah seketika saat jemari para siswa mulai menyentuh kaki orang tua mereka, menyadari bahwa di balik kesuksesan yang mereka raih, ada doa dan cucuran keringat orang tua yang tak terhitung jumlahnya.

Kepala MAN 2 Tapanuli Tengah, Muhammad Lufti Siambaton dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini dirancang khusus untuk menanamkan karakter Adab di atas Ilmu. Beliau menegaskan bahwa kecerdasan akademik setinggi apa pun tidak akan membawa keberkahan tanpa adanya ridha dan restu dari orang tua. Melalui simbolisme mencuci kaki ini, madrasah ingin memastikan bahwa para lulusannya tidak hanya siap secara intelektual untuk melangkah ke jenjang perguruan tinggi, tetapi juga memiliki jiwa yang rendah hati dan berbakti kepada keluarga.

Setelah prosesi basuh kaki, acara dilanjutkan dengan sungkeman massal di mana para siswa memeluk erat orang tua mereka sembari membisikkan kata-kata terima kasih. Banyak orang tua yang tampak terisak haru dan membalas pelukan putra-putri mereka dengan doa-doa keberhasilan untuk masa depan. Momen ini menjadi ruang rekonsiliasi dan penguat ikatan batin yang sangat dalam, mengingatkan para siswa bahwa sejauh mana pun mereka melangkah mengejar cita-cita, restu orang tua adalah bekal utama yang harus selalu dibawa. “Tadi saat memegang dan membasuh kaki Ibu, saya baru sadar betapa banyak beban yang beliau tanggung demi sekolah saya. Kata-kata maaf rasanya tidak cukup. Momen sungkeman ini menjadi janji saya untuk tidak pernah mengecewakan harapan dan air mata yang mereka teteskan hari ini.” Ujar Luthfiy siswa kelas XII 2.

Acara pelepasan yang penuh khidmat ini ditutup dengan doa bersama dan penyerahan kembali siswa secara resmi dari pihak sekolah kepada orang tua. Meskipun dibalut dalam suasana kesedihan perpisahan, tradisi ini meninggalkan kesan mendalam dan pesan moral yang kuat bagi seluruh keluarga besar madrasah. MAN 2 Tapanuli Tengah berharap tradisi ini dapat terus dipertahankan sebagai ciri khas pendidikan berbasis akhlakul karimah yang mampu mencetak generasi cerdas namun tetap menjunjung tinggi etika dan bakti.