
Pandan (Humas)-Fasilitas pendidikan di Kabupaten Tapanuli Tengah mengalami kerusakan parah setelah MAN 3 Tapanuli Tengah diterjang banjir bandang pada Selasa, 25 November 2025. Banjir yang datang dari aliran sungai di wilayah pegunungan tersebut membawa air bercampur lumpur hingga merendam kawasan sekolah dalam hitungan menit, Rabu(3/12).
Kerusakan paling berat terjadi di laboratorium computer di mana seluruh CPU beserta perangkat pendukung lainnya terendam air banjir. Unit CPU, monitor, printer dan jaringan komputer terendam hingga ke bagian dalam casing sehingga dipastikan tidak dapat digunakan kembali. Perabotan seperti meja dan kursi tidak hanyut namun seluruhnya tertutup lumpur tebal sementara lantai dan dinding laboratorium kotor dan licin membuat ruangan tidak dapat difungsikan sama sekali.
Kepala MAN 3 Tapanuli Tengah Hj. Juraida Siregar, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa banjir datang begitu cepat sehingga tidak ada waktu untuk menyelamatkan peralatan sekolah. “Kami bahkan tidak sempat memindahkan komputer ke tempat yang lebih tinggi. Dalam beberapa menit saja air langsung masuk ke semua ruangan,” ucapnya Kepala Madrasah.
Juraida menyampaikan bahwa kurang lebih dari 30 unit komputer yang biasa digunakan untuk pembelajaran TIK dipastikan tidak dapat digunakan lagi karena terendam sepenuhnya sejak banjir masuk ke area sekolah. Kerusakan ini menyebabkan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan pelaksanaan asesmen berbasis komputer terancam tertunda dalam jangka panjang.
“Di luar laboratorium komputer beberapa unit fasilitas lain seperti ruang kelas, perpustakaan, ruang guru dan gudang perlengkapan juga mengalami kerusakan namun tidak sampai pada tingkat rusak berat. Sebagian furnitur dan dokumen masih dapat diselamatkan meski proses pembersihan harus dilakukan hati-hati karena hampir seluruh ruangan dipenuhi lumpur,”ucap Kepala.
Ia juga mengatakan bahwa sebanyak 500 siswa terdampak langsung akibat peristiwa ini. Banyak dari mereka kehilangan buku pelajaran dan perlengkapan sekolah yang sebelumnya disimpan di ruang kelas. Selain itu ribuan buku pelajaran milik perpustakaan dan buku paket siswa rusak parah karena terendam banjir bahkan sebagian hilang terbawa arus. Para orang tua mengaku khawatir terhadap kelanjutan kegiatan belajar karena fasilitas teknologi sekolah kini lumpuh sepenuhnya setelah laboratorium komputer rusak.
Kepala Madrasah mengatakan Akses menuju sekolah juga terputus akibat material lumpur yang menutup jalan utama. Kondisi tersebut menghambat kedatangan guru, peserta didik untuk melakukan pembersihan. Sejak Senin pagi seluruh Tenaga Pendidikan dan staf TU sudah mulai bergotong royong namun proses pemulihan berlangsung lambat karena area sekolah masih tergenang lumpur tebal.
Kepala Lab Komputer Aisyah mengatakan bahwa Kerugian material akibat banjir diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah dengan kerusakan terbesar berasal dari laboratorium komputer. Pihak sekolah berharap pemerintah daerah dan Kementerian Agama segera memberikan bantuan terutama untuk pengadaan komputer baru dan pemulihan fasilitas belajar agar aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan.
“Selain kerugian fisik sebagian peserta didik dan guru mengaku masih trauma dengan peristiwa tersebut. Suara derasnya air dan pemandangan laboratorium komputer yang porak-poranda menjadi pengalaman yang sulit dilupakan,”tambah Juraida.
Ia juga mengatakan bahwa belum ada kepastian kapan kegiatan belajar mengajar dapat kembali dilaksanakan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah berharap proses pemulihan berjalan cepat agar peserta didik dapat kembali belajar dan tidak kehilangan semangat memperoleh pendidikan.(ms)