
Sorkam Barat (Humas) – MAN 2 Tapanuli Tengah menggelar peringatan Hari Kesaktian Pancasila dengan suasana yang khidmat dan bermakna. Acara inti diawali dengan Upacara Bendera yang diikuti oleh seluruh siswa, guru, dan staf madrasah. Upacara ini menjadi momen penegasan kembali komitmen terhadap Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi pemersatu bangsa, sekaligus mengenang jasa para pahlawan revolusi yang gugur dalam mempertahankan Pancasila dari berbagai ancaman, termasuk peristiwa kelam G30S/PKI. Rabu, 1 Oktober 2025.
Setelah upacara selesai, rangkaian peringatan dilanjutkan dengan pementasan seni yang menjadi puncak acara, yaitu drama kolosal sejarah para pejuang bangsa. Drama ini tidak hanya berfokus pada narasi sejarah G30S/PKI, melainkan dirancang secara reflektif untuk menyoroti kekuatan Pancasila sebagai ideologi pemersatu di tengah ancaman dan perbedaan. Puluhan siswa terlibat aktif dalam pementasan tersebut, menunjukkan dedikasi dalam mendalami karakter dan sejarah yang diangkat. Latihan intensif telah dilakukan sebelumnya, mencakup pendalaman karakter, sinkronisasi musik, dan pemanfaatan properti sederhana untuk menciptakan atmosfer yang syahdu dan khidmat.
Koordinator drama, Chotni Rizkiah Gultom, S.Pd., menyampaikan bahwa tujuan utama drama ini adalah mengajak siswa untuk merasakan dan merenungi sejarah, bukan sekadar menghafalnya. Drama ini diharapkan menjadi “laboratorium emosi” yang membuktikan bahwa nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan ketuhanan yang terkandung dalam Pancasila tidak akan pernah bisa dihancurkan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang penting untuk mengembangkan bakat seni siswa di luar bidang akademik, mengasah kreativitas, disiplin, dan kemampuan bekerja sama dalam sebuah produksi besar.
Melengkapi pementasan drama sejarah, siswa-siswi MAN 2 Tapanuli Tengah turut mempersembahkan tari-tarian budaya. Aksi tari ini menjadi simbolisasi kekayaan dan keragaman budaya Indonesia yang terbingkai dalam semangat Pancasila. Keterlibatan siswa dalam ekskul tari memang menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam melestarikan budaya, baik tari tradisional maupun modern. Penampilan tari ini menambah semarak acara, sekaligus memperkuat pesan tentang Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu di bawah naungan lima sila.
Kepala Madrasah, H. Muhammad Lufti Siambaton, M.Pd., menyatakan dukungan penuh terhadap rangkaian kegiatan ini. Beliau berharap bahwa melalui perpaduan antara upacara, drama sejarah, dan tari budaya, pesan moral dan ideologi kebangsaan dapat tersampaikan secara efektif dan mendalam kepada seluruh warga madrasah. Rangkaian acara ini secara keseluruhan bertujuan untuk memperkuat pendidikan karakter kebangsaan siswa, memastikan bahwa Kesaktian Pancasila bukan hanya sebatas jargon, tetapi diimplementasikan sebagai pedoman hidup sehari-hari, termasuk di era digital.