
Lumut (Humas) , 1 Juli 2025 — Program ekoteologi yang digagas oleh Menteri Agama Republik Indonesia mendapatkan sambutan positif dari masyarakat, khususnya para calon pengantin. Hal ini terlihat dari meningkatnya partisipasi pasangan calon pengantin dalam kegiatan simbolik penanaman pohon sebagai bentuk komitmen menjaga lingkungan sejak dini membangun rumah tangga.
Salah satu calon pengantin, Putri dan Aziz, yang mengikuti kegiatan penanaman pohon di halaman Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lumut mengaku sangat senang bisa berkontribusi dalam program ini. Mereka menanam bibit pohon Jeruk yang diharapkan akan tumbuh besar dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar.
“Kami merasa ini bukan sekadar simbolis, tapi bentuk tanggung jawab moral terhadap bumi yang akan kami wariskan pada anak cucu kami. Ini juga menjadi pengingat bahwa membangun rumah tangga tidak hanya soal cinta, tapi juga soal keberlanjutan lingkungan,” ungkap Putri.
Program ekoteologi merupakan pendekatan spiritual yang menggabungkan nilai-nilai keagamaan dengan kesadaran ekologis. Menteri Agama dalam beberapa kesempatan menyampaikan bahwa pernikahan bukan hanya ikatan suci antara dua insan, tetapi juga momen yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan sebagai bentuk ibadah.
Kepala KUA Kecamatan Lumut, Ahmad Putra Tanjung menyampaikan bahwa kegiatan ini telah menjadi bagian dari bimbingan perkawinan. “Kami mengajak seluruh pasangan yang akan menikah untuk menanam minimal satu bibit pohon. Ini adalah implementasi nyata dari konsep ekoteologi yang diharapkan akan membentuk keluarga yang tidak hanya sakinah, mawaddah, warahmah, tetapi juga peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.
Antusiasme para calon pengantin ini membuktikan bahwa gagasan Menteri Agama tentang ekoteologi tidak hanya berhenti pada tataran wacana, namun mulai menjadi gerakan sosial yang diterima dan dijalankan dengan penuh semangat oleh masyarakat. Diharapkan, semangat ini dapat menular dan menciptakan budaya peduli lingkungan yang lebih luas di seluruh tanah air.