
Pandan (Humas). Suasana penuh kekhusyukan menyelimuti halaman MAN 3 Tapanuli Tengah ketika lantunan sholawat menggema dari peserta didik dan guru sebelum memulai kegiatan apel pagi, Jumat (19/9). Iringan sholawat tidak hanya menambah keberkahan suasana, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya menghadirkan nilai religius dalam setiap langkah pendidikan di madrasah.
Dalam kesempatan itu, Kepala MAN 3 Tapanuli Tengah Hj. Juraida Siregar, S.Ag., M.Pd., menyampaikan arahannya yang sarat makna. Beliau menekankan bahwa pendidikan di madrasah bukan hanya sekadar mengejar capaian akademik, melainkan juga mengintegrasikan nilai kemanusiaan, kepekaan sosial, serta penghargaan terhadap perbedaan.
“Dengan cahaya sholawat, hati kita menjadi lembut. Dari hati yang lembut itulah lahir pendidikan yang penuh cinta, penghargaan, dan kemanusiaan. Inilah yang kita harapkan menjadi ruh dari kurikulum madrasah kita,” tutur beliau di hadapan seluruh civitas akademika.
Kamad menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum berbasis cinta kemanusiaan dan penghargaan terhadap perbedaan merupakan langkah nyata dalam menyiapkan generasi madrasah yang cerdas intelektual, matang spiritual, dan berakhlak mulia. Menurutnya, di tengah dunia yang penuh tantangan, pendidikan tidak cukup berhenti pada kecerdasan logika, tetapi juga harus membentuk empati, toleransi, dan kepedulian.
Peserta didik tampak antusias menyimak pesan yang disampaikan. Bahkan, sebagian dari mereka mengaku merasa lebih termotivasi ketika arahan Kamad diawali dengan lantunan sholawat. “Kalau diawali sholawat, suasana jadi lebih tenang dan pesan Bu Kamad lebih masuk ke hati. Rasanya seperti ada energi positif yang menuntun kami untuk lebih ikhlas belajar dan menghargai teman-teman yang berbeda,” ungkap Raisa, siswi kelas XI.
Selain itu, Kamad juga mengajak seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut dalam pembelajaran sehari-hari. Ia menekankan bahwa guru adalah teladan yang akan ditiru oleh peserta didik. “Mari kita hadirkan pembelajaran yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mendidik dengan hati. Setiap perbedaan di kelas adalah kekayaan, dan setiap peserta didik berhak mendapatkan ruang untuk dihargai,” tambahnya.
Melalui arahan ini, Kepala MAN 3 Tapanuli Tengah berharap seluruh elemen madrasah dapat menjadikan sholawat sebagai sumber ketenangan, sekaligus menjadikan kurikulum madrasah sebagai jalan untuk menumbuhkan generasi yang cerdas, religius, humanis, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan akhlak yang mulia.
Dengan demikian, gema sholawat yang dilantunkan di awal kegiatan tidak hanya menjadi ritual ibadah, tetapi juga simbol perjalanan panjang madrasah dalam mendidik generasi dengan hati, cinta, dan penghargaan terhadap sesama.(ms)