Penyuluh Agama Kristen: “Tetap Teguh di Masa Sulit”

Pandan (Humas). Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tapanuli Tengah, Rospita Sihotang, S.Th. mengatakan bahwa kita hidup di masa yang disebut “akhir zaman”. Banyak tanda-tanda yang telah digenapi: perang, bencana, kemerosotan moral dan kasih yang menjadi dingin. Hal ini disampaikan beliau saat melaksanakan kegiatan penyuluhan rohani kepada Kaum Gabungan yang dilaksanakan di Sibuluan Nauli, Kec. Pandan Kab. Tapanuli Tengah, Selasa (14/10).

Dalam penyuluhannya, Rospita mengangkat tema “Menjelang Akhir Zaman, kita harus siap” dengan nats utama Matius 24:37:44. Ia menjelaskan bahwa kita harus siap menghadapi akhir zaman. Menurutnya, yang menjadi pertanyaan kita saat ini bukan kapan Tuhan akan datang, melainkan apakah kita sudah siap.

Rospita mengatakan, “Setiap orang percaya harus siap hidup dalam kekudusan, kekudusan bukan kesempurnaan, tapi ketaatan. karena kekudusan adalah tanda bahwa kita benar-benar menanti akan Tuhan.”  Selain itu ia juga melanjutkan penyampaian materinya, “Siap dalam iman berdasarkan Lukas 18:8 menuntut iman menjadi dasar kita. Dunia sedang menggoncang iman banyak orang melalui ujian hidup, seperti tekanan ekonomi bahkan kejahatan yang semakin meningkat. Kita harus tetap teguh di masa sulit. Karena dengan iman kita tidak mudah goyah, dengan iman kita bisa bertahan dari segala kesulitan hidup.”

Penyuluh yang bertugas di Kecamatan Pandan itu juga menekankan sebuah kesiapan untuk bersatu yang terambil dari nats Yohanes 17:21. Menurut Rospita, di akhir zaman, iblis berusaha memecah-belah umat Tuhan, tetapi gereja yang siap adalah gereja yang bersatu dalam kasih dan tujuan. Persatuan membawa kuasa. Gereja yang bersatu akan menjadi berkat di tengah kegelapan dunia ini.

Di akhir penyuluhan, beliau menutup dengan ajakan agar umat senantiasa berjaga-jaga. “Jangan sampai kita tertinggal. Kedatangan Anak Manusia tidak diberitahukan agar kita berpola hidup dan berpola pikir selalu siap sedia. Agar terus menerus Tuhan Yesus Kristus menjadi pusat perhatian kita saat kita berdoa, berpikir, berkata-kata, dan berkaya.”

Melalui kegiatan ini, Rospita menanamkan pesan bahwa setiap orang khususnya umat yang mendengar Firman Tuhan boleh berjaga-jaga, meski kondisi kehidupan sulit, tapi dengan iman yang teguh, kesatuan saling mendukung, umat bisa bertahan dan mempertahankan iman. Beliau juga berharap semoga kesempatan ini menjadi pondasi untuk kita bisa bertahan dan juga menopang orang yang butuh dikuatkan. Kegiatan diakhiri dengan diskusi dan doa bersama.