SULINGJAR Jadi Sarana Evaluasi, Guru MAN 3 Tapteng Antusias Mengisi Survei

Pandan (Humas). Seluruh guru MAN 3 Tapanuli Tengah dengan penuh semangat melaksanakan pengisian Survei Lingkungan Belajar (SULINGJAR) yang merupakan salah satu instrumen evaluasi dari Kementerian Pendidikan. Kegiatan ini dilaksanakan di MAN 3 Tapanuli Tengah, Selasa(23/9).

SULINGJAR merupakan survei yang dirancang untuk memotret kondisi nyata lingkungan belajar di setiap satuan pendidikan. Melalui survei ini, pemerintah akan memperoleh data yang akurat terkait iklim belajar, ketersediaan sarana prasarana, serta praktik pembelajaran yang berlangsung di madrasah. Data tersebut nantinya digunakan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih efektif, tepat sasaran, dan berpihak pada peningkatan mutu pendidikan.

Kepala MAN 3 Tapanuli Tengah, Hj. Juraida Siregar, S.Ag., M.Pd., memberikan apresiasi yang tinggi kepada para guru yang antusias mengikuti pengisian SULINGJAR. Menurut beliau, survei ini bukan hanya sekadar kewajiban administratif, tetapi juga wadah penting untuk menyuarakan kondisi riil yang dialami oleh guru di lapangan.

“SULINGJAR adalah sarana bagi kita semua untuk memberikan gambaran nyata tentang situasi pembelajaran di madrasah. Partisipasi aktif guru akan sangat membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan yang lebih tepat. Kami berharap hasil dari survei ini bisa membawa dampak positif bagi perkembangan mutu pendidikan, khususnya di MAN 3 Tapanuli Tengah,” ujar Juraida Siregar.

Dalam pelaksanaan pengisian, para guru terlihat serius dan teliti saat menjawab butir-butir pertanyaan yang tersedia. Hal ini mencerminkan kesadaran tinggi bahwa data yang diberikan akan berkontribusi besar terhadap pengembangan kebijakan pendidikan nasional.

Salah seorang guru Sri Hartuti, S.Pd, juga menyampaikan kesannya setelah mengikuti pengisian SULINGJAR. Ia menilai survei ini memberi ruang kepada guru untuk berkontribusi dalam membangun iklim belajar yang lebih baik.

“Kami merasa suara guru benar-benar didengar melalui survei ini. Ada kepuasan tersendiri ketika pendapat dan pengalaman kami dihimpun untuk menjadi bahan evaluasi nasional. Semoga hasilnya benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di madrasah,” tutur Sri Hartuti.

Tak hanya itu, pengisian SULINGJAR juga menjadi momentum untuk mempererat kolaborasi antar guru. Dengan semangat kebersamaan, mereka saling membantu memahami teknis pengisian dan memastikan tidak ada kendala berarti selama kegiatan berlangsung.

Melalui keterlibatan aktif para guru, MAN 3 Tapanuli Tengah berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kualitas pendidikan nasional. Survei ini sekaligus menjadi bentuk komitmen madrasah untuk terus berbenah, menghadirkan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga ramah, inklusif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Dengan demikian, pengisian SULINGJAR di MAN 3 Tapanuli Tengah bukan hanya sebuah kewajiban formal, melainkan juga sebuah ikhtiar bersama untuk mewujudkan madrasah yang lebih baik, sekaligus menciptakan generasi yang berkarakter, cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.(ms)